Pemilihan bintang tamu (guest star) merupakan salah satu keputusan paling krusial dalam perencanaan Pentas Seni (Pensi) sekolah karena menguras porsi anggaran terbesar sekaligus menjadi daya tarik utama penjualan tiket. Tantangan utama panitia adalah menemukan titik temu antara keterbatasan dana (budget) dan tren musik yang sedang digandrungi oleh Generasi Z.
Proses penentuan diawali dengan melakukan riset selera audiens secara terukur melalui survei internal di lingkungan sekolah. Panitia dapat menyebarkan formulir pemungutan suara (voting) singkat untuk memetakan genre musik favorit, solois, atau grup musik yang sedang tular (trending) di kalangan siswa. Data hasil riset ini menjadi pijakan objektif bagi panitia agar tidak memilih pengisi acara hanya berdasarkan selera pribadi segelintir pengurus.
Penyesuaian anggaran dilakukan dengan mengeksplorasi opsi musisi yang sedang naik daun (emerging artists) atau solois berkonsep pop-akustik minimalis. Musisi dengan format pertunjukan sederhana—seperti solois yang hanya didampingi gitaris atau pemain kibor—umumnya menawarkan biaya tampil (performance fee) serta pemenuhan kebutuhan teknis (riders) yang jauh lebih terjangkau dibandingkan grup musik beranggota banyak. Selain menghemat anggaran panggung dan alat musik, format minimalis ini tetap mampu menghadirkan pertunjukan yang intim, syahdu, dan emosional bagi para siswa.
Tahap negosiasi dan efisiensi logistik menjadi kunci untuk menjaga pengeluaran tetap berada di bawah batas anggaran. Panitia wajib mempelajari dokumen riders secara detail sebelum menandatangani kontrak, mencakup kebutuhan penginapan, transportasi, konsumsi, hingga spesifikasi tata suara (sound system). Penghematan biaya logistik dapat dilakukan dengan memilih bintang tamu lokal atau regional yang tidak memerlukan biaya tiket pesawat, atau memanfaatkan kemitraan sponsor untuk memenuhi kebutuhan akomodasi dan konsumsi pengisi acara.